Catatan dari Balik Layar: Ikut Membangun Fitur Literasi Digital di TasikHub

31 August 2026 | Studi Kasus

πŸ‘οΈ 151 x dilihat ⏱️ Waktu baca: 2 menit
Catatan dari Balik Layar: Ikut Membangun Fitur Literasi Digital di TasikHub

Ditulis oleh Muhammad Akbar Fauzi, Founder Insan Cita Multimedia β€” dalam kapasitas sebagai developer di Diskominfo Kota Tasikmalaya

Di luar kesibukan mengembangkan Insan Cita Multimedia, saya juga berkesempatan terlibat langsung sebagai developer di Diskominfo Kota Tasikmalaya. Salah satu proyek yang belakangan ini saya kerjakan, dan cukup ingin saya bagikan di sini, adalah pengembangan fitur literasi digital di TasikHub.

TasikHub sendiri selama ini dikenal sebagai aplikasi layanan daerah, tempat warga mengakses informasi dan layanan administratif Kota Tasikmalaya. Kali ini, kami mencoba membawanya ke arah yang berbeda: mengintegrasikan katalog buku dari SIBI dan BUDI, dua platform milik Kemendikdasmen yang menyediakan ribuan bacaan gratis, mulai dari buku kurikulum, buku pengayaan, hingga komik literasi anak.

Kenapa Ini Menarik Buat Saya

Masalahnya sederhana: SIBI dan BUDI sudah bagus, isinya lengkap, tapi tidak banyak masyarakat yang tahu platform ini ada. Di sinilah TasikHub kami posisikan sebagai local gateway, gerbang lokal yang menjembatani masyarakat Tasikmalaya dengan sumber bacaan digital nasional itu, tanpa mereka perlu mencari-cari platform baru.

Sebagai developer, saya ikut memikirkan beberapa hal dalam prosesnya:

  • Bagaimana mengintegrasikan katalog dari SIBI dan BUDI ke ekosistem TasikHub tanpa membuat sistem yang tumpang tindih.

  • Bagaimana desain antarmuka bisa ramah untuk berbagai kalangan, terutama anak-anak yang akan mengakses komik literasi dan bacaan bergambar.

  • Bagaimana memastikan akses tetap mudah, warga tidak perlu daftar ulang atau pindah aplikasi untuk menikmati koleksi bacaan gratis ini.

Harapan di Baliknya

Yang membuat proyek ini terasa berbeda dari pekerjaan teknis biasa adalah tujuannya: mendorong perubahan kebiasaan digital masyarakat, dari sekadar scrolling media sosial menjadi reading. Sederhana untuk ditulis, tapi kalau berhasil, dampaknya bisa terasa jangka panjang, terutama untuk anak-anak yang tumbuh dengan akses bacaan berkualitas sejak dini.

Tentu saja, sebagai developer, saya sadar teknologi cuma menyediakan pintunya. Yang menentukan seberapa ramai pintu itu digunakan adalah peran orang tua, guru, dan pegiat literasi di lapangan.

Refleksi Pribadi

Menariknya, bekerja di dua "dunia" sekaligus, sebagai developer di instansi pemerintah dan juga founder Insan Cita Multimedia, membuat saya melihat proyek semacam ini dari dua sudut pandang. Ada kepuasan tersendiri ketika pekerjaan teknis yang saya kerjakan punya dampak sosial yang jelas, bukan cuma soal sistem yang berjalan lancar, tapi soal akses pendidikan yang jadi lebih mudah dijangkau masyarakat.

Semoga catatan singkat ini bisa jadi sedikit cerita di balik layar dari pengembangan TasikHub, dan mungkin juga inspirasi buat developer lain yang punya kesempatan serupa: bekerja di sektor publik sambil tetap membangun sesuatu yang personal.